Gelap mendung menyelimuti dusun bleki pagi itu. Derasnya hujan seolah menjadi tirai bumi akan datangnya cahaya matahari. Suara gemerisik daun, siulan angin di sela-sela batang bambu, dan riuh air hujan menciptakan komposisi nada orkestra kelas atas dengan aroma lokal. Mungkin seperti irama keroncong yang di racik oleh tangan dingin mozart: indah, menenangkan, dan hangat. Selimut karung goni yang tebal, semakin memeluk erat penduduk dalam kehangatan suasana itu.. dalam mimpi mereka mungkin, pagi tidak akan pernah menjelang.
Padahal, Di malam itu, telah terjadi kejadian mengerikan di ibukota. Para jenderal diculik dan dibunuh dengan kejamnya: ya, malam itu tepat tanggal 30 september 1965.
Tapi apalah arti ibukota bagi penduduk dusun itu. "Gejolaknya dibuat seolah menjadi gejolak negeri seluruhnya, tapi permasalahan dusun kecil itu, tak pernah digubris.. bahkan seolah dicampakkan bak negeri asing tak berpenghuni", itulah salah satu pesan penduduk awal dusun itu, mbak turio namanya. Ia pernah menjadi salah satu pencetus aksi sumpah pemuda tahun 1928, namun akhirnya ia memilih mengasingkan diri di sebuah kawasan kosong, di kaki bukit jabalekat. Usut punya usut, dia kesal lantaran di cap ndeso oleh orang-orang ibukota kala itu lantaran aksen daerahnya ketika bicara, terlalu mencolok. So simple, tapi itulah faktanya. Lalu diapun mencari pendamping dan hidup di lereng terpencil itu hingga akhir hayatnya.
Dan saat ini, penduduk seberangpun mulai mencicipi indahnya kehidupan kampung bleki. Dan mereka pada akhirnya membangun kehidupan baru di tanah impian itu. Tidak ada gejolak, hanya kesejukan dan kedamaian. Setidaknya, sebelum munculnya kejadian aneh yang menimpa tukiyo, salah satu pemuda desa tersebut. Yang tak lain adalah cucu tertua dari pendiri desa itu, mbah turio.
Cerita bermula pagi itu. Ketika penduduk desa masih enggan beranjak dari tempat tidurnya walaupun hujan telah reda, tukiyo sudah berdandan rapi ingin menikmati indahnya pagi. Matahari sudah mulai menyinari, jalan-jalan di sawah mungkin bisa menghangatkan tubuh, gumam tukiyo dalam hati. Lalu di gosoknya sepatu warisan kakeknya sampai mengkilap kinclong, dan dengan tangan di pinggang dan kepala tegak.. tukiyo bersiul-siul sambil melangkahkan kakinya menuju hamparan sawah yang membatasi dusun itu dengan bukit jabalekat.
Tapi tiba-tiba, padangannya menjadi kacau.. keindahan alam yang terhampar didepannya, dirusak oleh rangkaian bongkahan kotoran kerbau yang basahh dan meluber kemana-mana. Namun, tukiyo tak patah arang. Ia lanjutkan perjalanannya menikmati hangatnya mentari pagi itu. Dengan hati-hati dan wajah penuh duka luka dan mau nangis, tukiyo melangkah.. melompat.. jongkok.. salto.. hanya demi menghindari gundukan-gundukan kecoklatan itu. Sepatu mengkilatnya yang warisan kakeknya, dipertahankannya dengan sepenuh jiwa dan raga. Baginya, perjuangan melindungi sepatunya dari kotoran kerbau, sama dengan melindungi negara dari ancaman belanda. Benar-benar jiwa ksatria.
hingga...
Gedabrukkk.. blesss.. ia terjatuh dalam posisi push up. Dilihatnya sepatunya, "amaaaan ha ha ha..man..." ucapnya dengan nafas tersenggal-senggal. Namun ketika mengusap muka, sebuah cairan padat kecoklatan telah menempel lengket dan menetes pula. Ternyata bongkahan kotoran kerbau yang menjulang tinggi tepat berada di bawah mukanya dan telah menenggelamkan kepala itu hampir menutupi telinga. Tapi ia masih tersenyum, baginya sepatu itu lebih berharga dari mukanya..
tiba-tiba...
cring... sebuah suara mirip gelas yang dipukul-pukulkan ke gigi di iringi asap tebal muncul dari gundukan kotoran yang mengenai muka tukiyo. Ia kaget setengah mati, melompat kebelakang dengan satu kaki, dan diakhiri dengan posisi kuda-kuda dengan dua tangan mengepal di samping telinga, tanda siaga satu. Lalu, asap tebal abu-abu dengan aroma busuk itu pelan-pelan berubah menjadi air dan terjadi hujan rintik lokal tepat diatas gundukan itu. Tukiyo pun takjub dan bahagia tak terkira, dia serasa raksasa yang bisa menjangkau awan dan hujan dari dekat.. kemudian gundukan itu pelan-pelan berubah menjadi putih.. bersih.. bak kapas.. pemandangan aneh menyeruak di depan tukiyo..
Dalam sekejap, si putih perlahan-lahan berubah menjadi sesosok perempuan anggun nan menawan dengan senyuman yang sangat manis.. seperti kata pujangga: bak gula dicampur manggis.. lalu dengan suara merdu dan menggemaskan, perempuan itu menyapa hangat menggetarkan hati.. "terima kasih, mas.. kamu telah menyelamatkanku".
Dengan muka yang masih kaget tapi senang bukan kepalang, tukiyo hanya membalasnya dengan senyuman.. dan segera memperbaiki cara berdirinya yang masih dalam posisi kuda-kuda dengan kepalan tangan ditelinga, menjadi posisi kaki rapat dan tangan di belakang serta tubuh agak condong kedepan.. terayun-ayun.. gontai dan terlihat canggung.
tapi kemudian...
Setelah ucapan terimakasih singkat itu, sang putri cantik jelita (sebutan tukiyo untuk perempuan itu) tiba-tiba lari menuju bukit.. dan terus berlari dengan tangan diayunkan kanan kiri lalu menghilang ditelan jarak pandang.. hanya meyisakan debu-debu tipis yang diterjang...
Sedangkan tukiyo...
Ia masih dalam posisi sebelumnya. Berdiri doyong mematung. Ia pun bingung dan bertanya-tanya, siapa, anak siapa, dan dari mana putri cantik jelita jelmaan tai kerbau ini.. buih-buih rasa asmara yang belum pernah ia rasakan pun muncul begitu saja.. walaupun bau sang putri masih seperti asalnya, tapi pesonanya menghanyutkan jiwa tukiyo. Dan tukiyo masih tersenyum, bahkan senyumnya tak terkendali.. jangan-jangan ia mulai lupa, bagaimana untuk tidak tersenyum...
Bersambung..


0 comments:
Post a Comment